RS Universitas Muhammadiyah Malang
Berdiri diatas tanah
seluas 9 hektare dan memiliki bangunan utama setinggi 6 lantai dan beberapa
bangunan gedung penunjang setinggi 5 lantai dan gedung rawat inap setinggi 3
lantai. Bentuk bangunan yang megah dan tertata rapi dengan ciri khas arsitektur
tiongkok, menjadikan RS Universitas Muhammadiyah Malang ini mudah dikenali oleh
segala lapisan masyarakat.
Keberadaan RS UMM merupakan bagian dari layanan kesehatan berusaha untuk
memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pasien. Mengusung motto
“pelayananku, pengabdianku” mendorong RS UMM agar terus dan terus belajar
meningkatkan layanan yang memuaskan masyarakat.
Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid KH. Bedjo
Darmoleksono, di komplek Rumah Sakit Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa TimurMasjid bernuansa Tiongkok yang satu
ini benar benar istimewa, karena dibangun bukan oleh komunitas Muslim Tionghoa
Indonesia tapi justru dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika
Universitas Muhammadiyah Malang berencana membangun sebuah Rumah Sakit lengkap
dengan fasilitas Masjid, Rektorat UMM memutuskan untuk memprioritaskan
pembangunan masjid agar segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, dan
setelah beberapa kali berganti design ahirnya diputuskan untuk membangun sebuah
masjid dengan arsitektur Tiongkok.
Rektor UMM Dr. Muhadjir Effendy, MAP memberi nama masjid itu dengan nama Masjid
KH M. Bedjo Darmoleksono, Nama seorang tokoh pelopor Muhammadiyah di Malang.
Pada saat artikel ini dibuat masjid ini belum genap berumur sebulan dan Lantai
satu masjid ini sementara waktu masih digunakan sebagai kantor Pengelola Rumah
Sakit.
Lokasi Masjid
Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono terletak di dalam Komplek Rumah Sakit
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang di di Jl. Tlogomas, sekitar 500
meter dari kampus III Universitas Muhammadiyah Malang.
Sejarah Pendirian
Rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP berharap agar keberadaan masjid ini akan
menjadi fasilitas untuk mendekatkan rumah sakit dengan masyarakat. Masjid
yang sudah lebih dulu selesai dibangun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar. Menurut beliau membangun moral jauh lebih penting sebelum membangun
fisik. Itulah hal yang menjadi landasan utama kenapa pihak rektorat UMM lebih
memprioritaskan pembangunan masjid daripada pembangunan fisik Rumah Sakit.
Dan tentu saja
pembangunan fisik Rumah sakit yang ukuran nya jauh lebih besar dengan
kompleksitas yang tinggi akan memakan waktu lebih lama sebelum dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Seluruh pembiayaan pembangunan Masjid
dan Rumah sakit UMM ini ditanggung sendiri oleh UMM meski tak menutup
kemungkinan bila ada investor yang berminat untuk menanamkan modal.
Pembangunan Masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama proyek pembangunan
komplek Rumah Sakit Universitar Muhammadiyah Malang pada tanggal 22 Juli 2009
oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo.
Penggunaan pertama kali Masjid ini dimulai dengan solat Jumat pada tanggal 24
September 2010 yang lalu. Sholat jum’at tersebut dihadiri ratusan jamaah yang
terdiri dari masyarakat sekitar, para pekerja bangunan RS dan sebagian pegawai
UMM memenuhi masjid berukuran sekitar 300 meter persegi berlantai tiga itu.
Sekretaris BPH UMM, Wakidi, menjadi khotib pertama di masjid itu.
Masjid di komplek rumah sakit ini merupakan masjid ketiga yang dibangun oleh
UMM. Dua masjid lainnya terletak di kampus II UMM bernama Masjid Ad-Dakwah dan
Masjid AR Fahruddin di kampus III UMM. Masjid AR Fahruddin yang memiliki
bangunan lima lantai merupakan masjid kampus terbesar di Asia Tenggara.